menemukan-Mu dalam bait-bait diriku

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Sketsa Senja III

Terbangun, diantara sela mimpi takjubku. Ada suara pukulan dari potongan kayu meramaikan suasana subuh yang entah ke berapa dalam hidupku. Pintu-pintu digedor-gedor oleh pengurus pondok menyuarakan adanya pembangkitan diri menuju sumber suara. Yah,suara adzan subuh berkumandang di seantero desa benda. Tidak ada lagi suara yg lebih nyaring selain berkumandangnya adzan subuh ini, suara serak basah tanpa harus dicampuri, bagai cantik tanpa kosmetik  tidak ada yang dibuat-buat. Terdengar pula suara tidak nyaring di setiap lantai, suara peringatan! “semua santri, untuk segera mendatangi masjid An-Nur guna menjalankan shalat shubuh berjama’ah dilanjutkan dengan mengaji Al Qur’an di kelas masing-masing, waktu tinggal 3 menit, terlambat cekrik(potong rambut sebelah)!” lontar pengurus. Para santri bergegas berlari, berjalan dengan kantuknya masing-masing. Ah, subuh terlalu sejuk dan dingin untuk kita berceloteh memang, lebih baik diam dengan pemikiran yang masih bening, bagai embun pagi.
Tak lama, Abah yai rawuh dalam pengimaman, iqomah dilantunkan oleh beliau Kang Domo(Putra An Nur) orang yang sudah mengabdi selama 13 tahun ini. siapa yang tidak mengenal Abah yai di pesantren Al Hikmah? Ah, pertanyaan ini tidak perlu dinyatakan kembali,  sudah barang tentu para santri mengenal beliau entah lewat jalur mana cara mengenalnya. Seusai sholat dilanjutkan wirid ba’da shalat  “Allahumma antassalam waminkassalam wa ilaika yarji’ussalam fahayyina rabbanaa bissalam, wa adkhilna jannata daarassalaam, tabarakta rabbana wa ta aalaita yaa dzaljalaali wal ikram. (
Ya Allah Engkaulah As-Salam (keselamatan, keberkahan, kemulian, ketenangan) dan keselamatan dari-Mu dan keselamatan kembali padaMu, berilah keselamatan dalam hidup kami, Dan masukkan kami ke dalam surga Darussalam, Maha Suci Engkau ya Rabb yang Maha Luhur, yang Maha agung dan Maha Mulia.
Seusai do’a bersama, para santri bubar dengan niat masing-masing, ada yang berlari dengan tujuan ingin menjadi urutan pertama dalam setoran pengajian Al Qur’an biar cepat pulangnya, ada yang berlari untuk menyelamatkan sandalnya, hehe..ada pula yang berlari untuk bersegera ke toilet, hehe..dan masih ada-ada saja.

***
Tepat 08.00 Wib, berseragam hitam putih dibalut dengan jaket seragam osis SMP Al Hikmah, aku bergegas mendatangi gor, ya ini acara maulid Nabi tepat tanggal 29 maret 2008, dimana aku akan dpertemukan secara berhadapan pertama kalinya dengan gadis berwajah senja itu. Oh ibu, anakmu yang satu ini sudah habis pikir untuk mencari cara awal komunikasi, karena ini baru pertama kalinya. Tiba-tiba dalam lamunanku di depan sana, dikejutkan dengan kehadiran yang sudah tak asing lagi, dua orang yang berjalan berseragam sama persis sepertiku tapi mereka tanpa peci melainkan kerudung, hehe. Mereka adalah anggota panitia konsumsi yang sudah dibagi jobnya pada saat rapat maulid nabi di gedung SMP Al hikmah. Awal yang kaku dengan sapa salah satu dari mereka, Ka? kami sudah persiapkan konsumsinya, tinggal pembayarannya saja, celetuk Nisa. Mataku masih memandang takjub pada gadis sebelahnya Nisa, ya dia-lah gadis berwajah senja itu, mata tertunduknya, rona pipi dan senyum tipis yang mengemban membuatku tak bergeming dengan celotehannya Nisa. Eh, dengan beraninnya Nisa melambaikan tangan. Ka Ali…!terkejut dibuatnya bergegas aku menata kembali berdiriku.” Eh, iya Nisa, jadi gimana tadi konsumsinya?” timpalku. “Hu… Ka Ali memikirkan apa sih? Dari tadi Nisa itu mengulang-ngulang kata-katanya loh.” Jawab Nisa. “Oh iya maaf, tadi baru saja aku berfikir banyak ternyata ya, keindahan yang dikebiri, tuh contohnya patung-patung di borobudur, tapi tidak selamanya memang keindahan yang dikebiri itu seperti patung, bisa jadi manusia menjadi obyeknya, tapi tidak berlaku perempuan yang ada dihadapanku, eh maaf maksudku ibuku” jawabku. Ah, aku gak mengerti ka, kata-kata itu tadi barusan, yang jelas saya dan temanku ini sudah mempersiapkan konsumsinya, tinggal pembayarannya saja” timpal Nisa.  syukurlah Nisa tidak tahu maksudku. Aku lalu menyodorkan uang untuk pembayaran kepada gadis berwajah senja itu, lagi-lagi tangan Nisa selalu menyambut terlebih dahulu. Pada akhirnya aku hanya menatap wajah senja itu tanpa berbicara sepatah kata pun terhadapnya. Dan dia pun pergi kembali menghilang perlahan dari hadapanku. Entahlah, aku tak pernah menanam apa-apa, dan aku pun takkan pernah kehilangan apa-apa. Tetapi jika aku menanam cinta? Entahlah…
acara maulid berjalan dengan baik, ini adalah pertama kalinya SMP Al Hikmah mengadakan acara tersebut dengan melibatkan kelas akhir sebagai panitia, yah..ini memang sudah menjadi kehendakNya.
***
Senja ini, setelah berakhirnya acara maulid nabi, aku duduk ditemani padi menguning yang makin merunduk, dibelakang komplek Al hasan ini, ada bebukitan menjulang tinggi, kabut putih menyelimuti puncak Gunung Slamet. Keindahan dengan ketinggian 3.432 m, merupakan gunung teritnggi kedua di jawa setelah merbabu. Gunung Slamet masih berstatus sebagai gunung berapi yang aktif. Aktifitas vulkaniknya masih terus berlangsung hingga sekarang. Aktifitas yang paling terlihat tentu saja semburan belerang di kawahnya. Selain belerang, sumber air panas yang ada di kaki gunung ini juga menandakan bahwa gunung ini masih beraktifitas. Gunung Slamet terletak di lima wilayah administrasi, Tegal, Pemalang, Purbalingga, Banyumas dan Brebes. Masing masing daerah memiliki jalur pendakian tersendiri dengan puncak tersendiri. Gunung Slamet memiliki tipe gunung khas gunung gunung di Jawa Barat. Dengan hutan yang lebat di sepanjang jalur pendakian dan minimnya padang sabana. Hampir seluruh jalur pendakian tertutup hutan tebal, hanya terdapat sedikit trek terbuka. Tapi sayangnya puncak dari jalur Guci bukanlah top puncak. Top puncak adalah dari jalur pendakian Bambangan dan Kaligua. Hmm, entahlah.. kapan aku bisa mendaki gunung slamet. Tak lupa, jari jemariku yang tak jarang bermusuhan memegang pena dan setumpuk buku diary usangku. “ ada sajak berbaris rapi yang kian menepi, meski sepi sudah akhirnya ingin bertemu kembali. Aku tidak pernah tahu kapan kesudahan ini berakhir,  tentang kerinduan yang terobati meski sekejap. Akhirnya semua tiba pada waktunya- ketika sudah tidak ada lagi cara untuk berbagi, tidak ada lagi cari untuk menahan sepi. Baru saja ku lihat bidadari bumi datang menghampiriku, wajah indahnya sudah tak lagi ku hiraukan, karena bentuk jasadiyah akan lapuk di makan usia. Aku sudah tidak tahu mencintainya karena apa, karena aku tidak ada apa-apa untuk mengapa-apakan tentangnya. Perwujudan jasad adalah simbol hadirnya ia yang sejati, meski aku  tidak pernah tahu dia yang sejati. Namun, aku nyaman jika melihatnya meski dari kaca jendela sekalipun yang selalu jadikan media melihatnya. Aku tidak pernah menghiraukan tentang cinta yang isunya mampu patah-patah, retak dan kadaluarsa. Sebab aku sedang mengisi gelas yang kosong, apapun yang akan terisi, gelas tetaplah gelas tak akan berubah namanya. Biarlah, senja ini adalah saksi yang bisa menyuarakan kesaksiannya tanpa harus menyelipkan amplop berisi rupiah kepada kantong yang lainnya. Biarlah, waktu yang akan menjawab tentang keberadaan kita di persada dunia fana ini.  bukan lagi tentang cerita laila majnun. Aku hanya tahu, bahwa laila adalah malam, sedang majnun  adalah orang gila. Hingga aku ingin menggabungkan bahwa malam adalah tempatnya orang menggila dalam bersuluk menuju jalan hakikat. Malam adalah gelap berwarna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya “ada” itu “tidak ada”, sedangkan yang “tidak ada” diterka “bukan”, yang “bukan” diterka “ya”. Dan ini bukan hanya kisah pemuda yang terlena tentang cintanya kepada manusia saja, melainkan cintanya kepada pemilik cinta. Aku tunggu dikau dengan tidak tahuku”.
                                                                                                        17.45 Wib 29/03/2008

                                                                                                       Catatan untukmu gadis berwajah senja.

            Bel tanda persiapan shalat jamaah maghrib berbunyi, pertanda aku harus mengakhiri catatan di diary usangku hari ini juga. Aku bergegas menutup rapat, berdiri tegak menatap ufuk barat, oh..ini memang senja yang indah, meski tidak semua dapat mengindahkan, dan mendefiniskan tentang sketsa senja ini, tidaklah penting! Yang jelas senja tetaplah senja bagian dari kehidupan kita yang sebentar dan pasti terlewati.

Bersambung…
Setiap orang adalah lakon. Bukan figuran, 
Share:

Sketsa Senja II


Diamku, sejenak  menghela nafas dalam diantara tamu undangan rapat acara Maulid Nabi, tertunduk dalam seperti orang yang benar-benar asing, hati yang berbunga-bunga hanya mengatakan dimana dia? Sedari menunduk  tadi tidak kulihat dia, kutenangkan betul ketegangan jasadku walau hati benar-benar penuh bunga yang berharap semerbak wanginnya. Aku benar-benar seperti mencari jarum yang jatuh dalam tumpukkan jerami, ataupun mencari mutiara yang jatuh dalam lumpur. Diruang yang diisi 30 orang ini, sepertinya memang banyak wajah-wajah yang tidak kukenal,  terkecuali gadis berwajah senja itu. Ketika kucoba menfokuskan dalam kepanitian acara maulid nabi yang disampaikan oleh ketua, pintu yang ditutup rapat terbuka perlahan  diiringi masuknya dua gadis secara berurutan, salah satu darinya berucap “mhon maaf atas keterlambatan kami”, aku lihat dengan jelas tepat dibelakang gadis yang berucap permohonan maaf, tak asing wajahnya, berkerudung  belang hitam corak hias putih yang pernah kulihat di masjid, dia adalah gadis berwajah senja itu,  kau tahu bukan? Jarum dalam tumpukkan jerami dan mutiara dalam lumpur telah ditemukan, iya semua itu bukan mimpi, berkali-kali kucubit lenganku ternyata sakit, hehe. Dia pun duduk tepat ditengah,  aku lihat wajahnya bersemu merah,nafasnya tidak teratur, mungkin dia berlari kecil ketika hendak memasuki ruangan rapat.ketika ditengah acara, mas ketua ozan(sebutan populernya  ciblek, hehe) mempersilahkan dia gadis berwajah senja  selaku bendahara untuk melaporkan kas bulanan dan anggaran untuk acara Maulid Nabi. Oh Ibu…ini pertama kalinya anakmu mendengarkan suaranya, gugup merdu terlontar dalam ucapannya, entah karena apa yang jelas perlahan kutemukan bunga yang semerbak wangi, menghilangkan keterasingan yang melanda . Acara demi waktu menghampiri usainya, kini pembagian kepanitian disebutkan, aku tercatat sebagai koor. Konsumsi, mungkin melihat tubuh kurusku kali ya, supaya bisa memperbaiki gizi, hehe…itu tidak penting jelasnya ada yang lebih utama, ya…. Tidak terduga dia gadis berwajah senja itu menjadi anggota konsumsi. Adzan dhuhur mengakhir acara Oh…Ya Rabb aku tak mampu membayangkan untuk hari esok…
***
Semilir angin begitu menyejukkanku, di pematang sawah dekat grand house(sebutan buat tempat tanaman hias yang ditutupi jaring-jaring kecil),diiringi cahaya merah gegap geminta terbentang diufuk barat ,ditemani dengan ocehan para supporter  bola ala santri(pakai sarung), seperti biasa ustadz yang dikenal sebagai senior yang mau kumpul rembug dengan para junior sudah berdiri tegak di lapangan, semangat gigihnya tidak hanya dilihat dalam bermain bola saja, namun beliau mampu melewati 20 tahun di pon. Pes Al Hikmah, suka-duka beliau lewatkan dengan berbagai cerita dalam pengajian kitab  Safinatun An-Najah(Perahu yang selamat)yang terkadang membuat tawa dan sedih para santri, beliau dijuluki Lurahnya Abdi Dalem( abdi dalem;santri yang bekerja dalam titah kyai). Beliau tidak pernah sedikit pun terlihat rentan dalam menjalankan tugasnya, berbeda denganku yang suka bermalas-malasan, kebiasaan santri al hikmah, memang menyukai mengundang marah pengurus komplek, dengan berbagai aksi, dari acara membolos, terlambat bangun dan jama’ah. Pernah suatu saat telat bangun karena pada malam itu aku melek bengi(terjaga), ternyata pas subuh ustadz senior yang bernama lengkap Slamet Sofyan, membangunkan para santri dengan membawa gayung berisi air penuh,bak menyirami tanaman di ground house saja, ustadz senior ini menyiramkannya terhadapku, segeer…ya tetapi rasa pekewuh(malu) begitu menjelma dalam ingatanku. Semenjak itulah aku selalu bangun sebelum beliau ngoprak-ngoprak(membangunkan, menyuruh berangkat jama’ah) walau terkadang aku berpura-pura duduk bersila dengan mata merem melek..hehe.
Akhirnya usailah pertandingan sepak bola ala santri, diikuti catatan diaryku yang penuh rasa dalam senja ini, ku tulis jelas “ kehidupan ini bagai bola dalam bawaan pribadi masing-masing, semakin tangguh-rapuh pembawanya, semakin nyata pula apa yang diharapkan dan tidaknya”. Aku bergegas hendak ke komplek bersiap membuka telinga lebar, hati yang semoga dilapangkan, Al…terdengar suara ustadz Slamet menyapaku, memberi kode etik…siap komandan!(dalam hatiku,hehe). Seperti biasanya ustadz senior yang  tak asing ini selalu mengajakku makan, ngopi dan duduk bersama. Ini memang berawal dari pengajian kitab Safinatun An Najah, seusai pengajian kitab tersebut, aku pun masuk kamar ustman bin ‘affan. teman baikku asep menghampiriku kemudian menyampaiakan pesan bahwa ustadz slamet mengundangku untuk ke gubuknya. Dengan bertanya besar aku mendatangi gubuk tercintanya, ternyata ustadz slamet telah menyediakan makananan untuk disantap bersama, dan semenjak itulah hingga akhir beliau disini aku tetap jadi santri dekatnya. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang harus aku sampaikan kepada ustadz yang satu ini, termasuk kedekatanku juga dipertanyakan teman-temanku, namun aku urung untuk bertanya. Sebab, aku percaya pertanyaanku lebih indah terjawab seiring dengan realita yang aku hadapi, itulah jawabannya..!! seusai makan dan bercanda riang di gubuk beserta para abdi dalem , aku pamit untuk segera bersiap-siap jama’ah shalat maghrib, seperti biasa suara lantang pengurus komplek mengumandangkan kata ampuhnya “waktu tinggal 10 menit, yang terlambat dicekrik(potong rambutnya)”

***
Disini, dalam ketersendirianku,  menatap atap-atap kerapuhan, kesunyian melanda, berbagai persepsi tercipta, ada bayang-bayang nyata menghampiri ketersendirianku, entah aku sedang berada dimana, di gurun  yang tak kunjung menemukan oase-kah? Menutupi kerapuhan yang sejatinya memerlukan pelepas dahaga-kah? Terlalu angkuh-kah? jika haus tak pernah mencari air, jika sakit tak pernah mencari tabib(dokter),jika lapar tak pernah mencari makan? Ada entah berapa partikel yang saling berkait dalam diri setiap manusia, yang menyebabkan sebab-akibat menjadi penentu partikel tersebut. Siapa sebenarnya penciptanya? Bukankah lebih memegang kendali dengan wujud kekuasaan? Meski, banyak dari keterwujudanNya selalu adigang, adigung dan adiguna. Meski banyak kekuasaanNya itu di nilai seperti biji sawi, dan mengaku sebagai bagian dari kepemilikan kekuasaan? Aneh, ketidakmilikan yang dititipkan sering membuat perebutan kekuasaan fana, apakah itu bias dari dua sinar yang berlawanan? Hingga malah menjadi fatamorgana.
Sadar, ketersendirianku menyebabkan aku berdiskusi ria dengan batinku, entah berapa lama yang jelas aku ingin melanjutkan dengan muroqobah(kontak batin dengan wali mursyid tarekat). Ku awali dengan memejamkan mata jasadku, bahwa memejamkan adalah menghindari tegur sapa dengan ketidakmanfaatan, ketidakjelasan mata jasad dalam setiap berkedip. Hanya dalam keadaan mata jasad tertutup, manusia pilihan yang intiqal(berpindah alam) dikatakan khusnul khatimah, manusia mampu berkomunikasi dengan batinnya(hati). Setiap hela nafas yang menderu ialah awal dari langkahku memejamkan mata jasadku, menyelusuri lorong hitam berkabut putih tebal yang kadang membuat terombang-ambing dengan pernyataan titik temu yang sering dinisbatkan dengan kata kebenaran. Aku sering tertipu daya akan kenikmatan dalam tertutupnya mata jasad, padahal kenikmatan yang suka menipu lagi melalaikan adalah cobaan. Sayang, rupa,warna dan bentuk acapkali membuat terlalu unggul diri, terpedaya sehingga terhenti langkah-langkah selanjutnya. Setelah kulewati kabut putih tebal, Nampak banyak jiwa berbaris rapi, berjubah putih, bersyibhah(di tangannya memegang tasbih), melafalkan hadroh kamilah(baca;syair-syair). Menanti kedatangan sang guru, suara redam melihat sosok tersebut, dengan jalan wibawanya, senyum berkembang disetiap kedip mata, sungguh, aku merindukkan sosok yang selalu tenang dalam keadaan apapun, beliau sedikit pun tak mempunyai wajah yang berkerut-cemberut, tahu akan bedanya bukan? Wajah periang terlihat segar untuk dipandang, sedang wajah sayu terlihat?....beliau berdiri tanpa mimbar, meski beliau berderajat, mengisyarahkan untuk melingkar. Aku yakin betul, ini berkaitan dengan teori titik(nuqtah), kebetulan  Aku sendiri mendapatkan undangan  yang berbentuk lingkaran, dengan hiasan angka nol (0) di atasnya, yang bertuliskan, "Keterwujudan dari kehampaan, kehampaan dari ketiadaan, ketiadaan dari kegaiban, kegaiban dari ketakterhinggaan, dan ketakterhinggaan dari cinta keabadian". Ketika kubaca dengan seksama, kata demi kata, yang terukir indah di dalam tulisan tersebut, tiba-tiba saja, sang guru yang merangkai undangan itu untukku, bertanya kepadaku, "Tahukah kamu, dari manakah asal-usul huruf-hurufku ini?". Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. "Huruf itu berasal dari kumpulan garis, garis berasal dari titik yang diperpanjang, titik berasal dari nuqt}ah hitam. Dengan demikian, maka deret angka berasal dari angka sebelumnya, dan angka sebelumnya berasal dari angka nol (0). Oleh karena itu, maka nuqt}ah atau titik hitam, identik dengan angka nol (0). Nol (0) adalah titik nuqt}ah, dan titik nuqt}ah adalah nol (0)". Karena huruf tersebut masih penasaran dengan jawaban,  kembali bertanya, "Bagaimanakah caranya menunjukkan keidentikkan, antara titik nuqt}ah dengan angka nol (0)?". Jawab beliau , "Jika angka 10 (sepuluh) Latin ditulis dengan angka 1 dan 0, maka angka 1. (sepuluh) Arab ditulis dengan angka 1 dan . (titik). Dengan demikian, jika 1 sama dengan 1, maka nol (0) sama dengan titik (.) atau nuqt}ah". "Jika sebuah nama terangkai dari beberapa kata, dan kata terangkai oleh beberapa garis, dan garis terangkai oleh kumpulan beberapa titik, dan titik terangkai oleh kumpulan titik-titik nuqt}ah yang lebih kecil, maka dapat disimpulkan, tidak akan ada sebuah nama, jika tanpa adanya titik nuqt}ah!". "Ya", jawabku. "Siapakah yang mendahului nama, yang terangkai oleh beberapa kata tersebut?". Jawabnya, "Yang mendahului nama, adalah zat atau benda yang diberi nama. Misalnya begini, Anda tidak bisa menyebut sebuah benda itu dengan nama angin, jika zat angin-nya tidak pernah terwujud. Anda tidak bisa menyebut benda itu dengan nol, jika zat bendanya (0) tidak pernah terwujud". "Apakah sama, antara nama dengan zat bendanya?". Jawabku, "Apakah sama, antara tulisan spidol yang tertulis di depan papan tulis, dengan benda spidolnya, yang tersimpan di belakang papan tulis?. Apakah sama, antara tulisan Allah yang tertulis di papan surat cinta, dengan zat-Nya, yang tersembunyi di balik hijab kegaiban mutlak-Nya?". "Tidak sama", jawabnya. Lanjut beliau, "Oleh karena itu, antara nama dengan zatnya berbeda".
            Setelah melingkar, mendekap segala rasa asa yang dibawa, kini seolah hancur lebur tak tersisa memandang wajah indah ciptaan-Nya, itulah mahabbah, sebesar dan sekecil apa bukanlah ukuran ketenangan dan kenyamanan menikmati keindahan. Berbeda dengan orang yang sudah mampu benar mahabbah, ia suka rela melepaskan apa pun demi mendapat cinta dari Sang Pemilik Cinta. Bahwa jalan berliku, menanjak, lurus berlubang hanya uji coba yang suka diseriuskan melebihi keterbatasan makhluk.

Sang guru pun bersabda : Kekasihku tidak bisa membaca dengan mata kepala, tetapi ia bisa melihat dengan mata hati. Kekasihku tidak bisa menulis dengan tangan, tetapi sentuhannya menuliskan kedamaian. Kekasihku adalah cinta pertama, sehingga dialah asal semua cinta.

Bersambung.......


.


Share:

Sketsa Senja I

             Senja ini, kutatap rerimbunan daun berjatuhan, terhempas angin hebat yang sesekali menggoda. Laksana para darwis yang menari-menari  mengekspresikan dzikir jawarihnya, burung-burung walet  bertebaran terbang menggerombol mencari sarangnya, hati yang terkadang kalah dengan nafsunya. Sudah lama aku duduk termenung diatap-atap rumah dengan ketidakpastian yang melengkapi hidup, berharap lebih dengan kunjungan sedikit jawabannya, berkaca mata melihat realita, tangis-tawa adalah bagian  ekspresi menentramkan jiwa yang begitu rapuh ini, dihampiri beribu-ribu dosa tentang luka-duka terhadap manusia. Sekian banyak sudah persakitan yang menyebabkan luka-duka ini terjadi, tentang cinta alif ba ta tsa yang terbata-bata, menghampiri ribuan kenangan memori senja. Ratapan-ratapan senja apalagi yang harus aku lakukan? Demi menghilangkan kabar-kabar ketidakpastian ini..?? kabar yang menggetarkan hati, menutup rapat lisan, dengan mata bertutur duduk di persimpuhan. Bukan aku tidak percaya dengan penjelasan-penjelasan, akan tetapi aku merasa tidak berdaya dengan kenyataan yang sekarang menghilangkan sadarku. Kau tahu bukan? Dipelataran sudut rumah hatiku sambutan senyum sapamu  adalah bagian penting dari penulisan sajak-sajak hidupku, berlebihankah aku? Bagi siapa pun jika diiringi dengan senja yang penuh dengan renungan, tentu merasakannya, bukan janji-janji pagi yang penuh gairah namun lupa senja.
                                                                                                ***
Bel berbunyi  tiga kali, mengisyaratkan anak-anak untuk segera berkumpul di halaman sekolah MA, halaman sekolah kami begitu sempit membentuk letter  “L” sebab mengelilingi GOR yang dalam kiprahnya bukan lagi sebagai tempat olahraga, melainkan tempat menunaikan segala rutinitas yang menjadi kewajiban anak pesantren “Shalat jama’ah dan mengaji”. Aku dan kawan-kawan sudah tahu bahwa hari ini  ada orasi pemilihan ketua osis besar-besaran dari pemilik masing-masing kubu pendukung, adu gengsi sepertinya nampak jelas dipermukaan, tidak jarang mereka beradu suara lantang mengejek antar jurusan. Sebenarnya, tindakan eja-mengejek sudah menjadi kebiasaan para pendahulu kami, maklumlah dari kelas satu kami sudah harus menentukan jurusan, selain itu juga bentuk kasih guru terhadap jurusan yang biasa-biasa saja yang dianggap santai tersamarkan dan dipusatkan untuk kelas unggulan. Ada tiga calon siap melontarkan amunisi-amunisi kata indah, tentu Ali Ibrahim  maju terlebih dahulu dari mereka, jelas  karena dia memang ketua osis yang akan segera tergantikan, dengan sambutan yang meriah melontarkan kata-kata yang ia ambil dari gadis berwajah senja  itu “ Kita benar-benar tidak akan pernah tahu, jika hanya lisan saja yang bergerak hebat dibandingkan tindakan . berdirilah tegak lurus dengan langit itulah cerminan manusia(manut kasajatining rasa; mengikuti kehendak hati nurani). Dibalik jendela kaca lantai satu kelas XI  IPA, ada  tatapan yg begitu sejuk, senyum mengemban melukiskan kebahagiaan, entah karena apa ia tiba-tiba tertunduk membisu, membuka catatan hariannya. dia tidak suka berlebihan mengemban rasa, begitu peka dan tegas dalam bertindak. Ali menyadari dari awal ada tatapan yang mempunyai arti lebih baginya, dibanding tatapan ribuan lainnya yang simpang siur tidak jelas kemana. Posisi dia berdiri disamping kelas tatapan penuh arti  tersebut, karena kelas tersebut berada disebelah barat pas tempat  pusat panggung orasi diadakan.  Segeralah ia menyelesaikan sambutannya, untuk mempersingkat waktu dalam  orasi.

***
Dalam diamku, bersitatap dengan senja, iya aku bertemu dengannya di senja tahun ketiga sebelum ini, tepat bertambahnya umurku aku bersitegang dengan gadis berwajah senja itu, penuh dengan renungan tidak berlebihan kirannya. Waktu itu secara tidak sengaja aku sedang melintasi masjid, diterasnya aku lihat dia sendiri, menulis apa entahlah. Aku lewatkan hariku tanpa adanya rasa, namun tidak tahukah? Kebiasaan dia di senja menulis apa entahlah itu aku tidak tahu tetap dijalani di teras masjid. Hingga suatu saat, aku memberanikan diri menulis surat berisikan rangkaian kata-kata yang aku sendiri tidak tahu apa tujuannya. Apakah aku melibatkan perasaan karena kebiasaanku menatap sekilas gadis berwajah senja itu?entahlah….yang jelas bagai orang kesurupan saja secara mudah merangkai kata-kata mungkin bisa disebut bernuansa perkenalan. Aku sendiri tidak pernah tahu, bagaimana berkenalan yang baik-baik, karena semenjak Sekolah Dasar tiba-tiba saja teman kelas mengenalku. Oh..Ibu ini anakmu pertama kalinya ingin berkenalan dengan gadis berwajah senja itu. Terkirimlah surat perdanaku lewat saudaranya yang kebetulan satu asrama denganku, berlabel pemuja rahasia selama 40 hari surat itu terhitung sepuluh ditangannya, entah d ia muak atau dibakar habis-habisan surat kecilku itu. Entah terbalaskan atau tidak surat-suratku. Aku hanya bisa menunggu, tanpa berharap lebih yang hanya menimbulkan kekecewaan yang dalam. Senja ini pun aku tulis sajak-sajak ketidakhdiran burung-burung  wallet yang mencari sarangnya, entah ini ratapan apa yang aku puja-puji,  mungkin langit telah memberi penjelasan dengan sederhana, namun aku tidak mampu membahasakannya. Karena buta terhadap dunia yang bersarang di hati, sudah jelas-jelas guru sejatiku al warasatul anbiya membahasakan dunia dan seisinya dibawah telapak tangan, bukan di hati!. Ya hati suka qollaba, berbolak-balik dengan temperatur yang didapatnya. Entah apa itu, ia lebih peka, ruang dan dimensi waktu tidak terbatas (mutlak) seperti halnya kita (berimajinasi )sedang berada di mekkah mencium hajar aswad. Apakah kita harus kesana? Bukankah tidak, cukup hatimu-lah sebagai pengendali anggota tubuh. Itulah yang aku bingungkan sekarang, apakah ini murni  hati? Ataukan perasaan yang dibalut dengan nafsu?.
Senja ini, lagi-lagi ku tatap dengan seksama, melihat sepasang burung gereja saling berkejaran di kabel tiang listrik, apa mereka tidak lelah…? Memadu kasih dengan terbang kemudian hinggap terbang kembali? Sunggguh aku diantara ketidak tahuan, berselimut entah apa ini namanya, mungkin rindu..ya kerinduan seperti di penghujung jalan, mentok tiada tara. Duduk bersila mencari ketenangan yaa daayimu, yaa daayimu. Entah berapa kali aku melafalkannya, hingga mata terkatup-katup, disaat acara selanjutnya yaitu tidur, aku dikejutkan dengan kabar yang menurutku bagian dari kabar langit yang begitu merdu didengarnya. Hmm…. Pemberi kabar ini tentu agen rahasia FBI atau kasarnya tukang posku ya saudaranya dia gadis berwajah senja itu. Kabar yang tertulis aku diundang rapat dalam kepanitian acara Maulid Nabi, artinya aku sudah pasti bertemu langsung denganya  tanpa harus dari kejauhan yang di ukur ratusan meter. Oh…Ibu anakmu ini akan segera bertemu dengan gadis  berwajah senja itu, rasanya aku ingin berteriak di kamarku di lantai 3, tetapi apalah artinya teriakan suara patah-patahku. Hanya akan menyimpan luka-duka jika tidak berujung.

Esoknya, bergegas ku tata rapi hati dan mataku, agar tidak buta dengan hari ini…
Bersambung……
Share:

Blogger templates