Sudahkah engkau membuat dirimu menjadi sungai dangkal, sehingga yang lain dapat muncul ke permukaan? Bebaskan dirimu dari belenggu keterikatan akal, hawa nafsu, karena tempat yang paling layak dihuni oleh nur Allah adalah hatimu. Bebaskan dirimu dari belenggu tipu daya kenikmatan, keduniaaan, meski kau bukan seorang arif billah. Bebaskan dirimu dari ketergantungan yang menyebabkan lupa akan Allah. Jika engkau tak pernah bersaksi kepada Allah, maka Allah telah menyaksikanmu hingga sampai saat ini. Bebaskan dirimu dari ketakutan akan kekeringan, kejahatan, kedzhaliman manusia, karena bila kita larut dalam Allah, tak ada yang lebih baik selain dari-Nya. Bebaskan dirimu dari segala teks-teks yang menuliskan tentang jalan hidupmu, karena realitas adalah jalan para pecinta, engkau akan menemukan ribuan buku, teks-teks di dalamnya, karena cinta adalah rahasia dari gudangnya. Bebaskan dirimu dari bersembunyi lewat pintu kenyamanan, masuk dan benamkanlah dirimu ditempat yang mengancam hidup, hancur dan buang reputasimu hampalah dengan mengosongkan diri, karena itulah kunci para arif billah. Dan lagi-lagi engkau tak akan berjumpa pada suatu wilayah, bila kau tak tahu dimana wilayah tersebut berada, karena engkau sedang buta dari sebuah tipuan yang sedang meniupkan kebaikan yang pada hakikatnya adalah ketidakbenaran.
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Sufisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sufisme. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Desember 2015
Kidung Senja
meski, setiap detik aku tak mampu membacamu, tapi sesalmu tak ada arti bila dibanding kesetiaan diri. aku lelah, menerpa hujan yang kian deras membanjiri pipiku. aku terserah bagaimana akan hidup pada nyata-nyata yang tak kentera. sungguh, langkah kaki-ku ingin tergopoh-gopoh menyambangimu, dan apabila senja ini tak kujumpai, maka sungguh aku ingin bernyanyi dengan bidadari malam. engkau rembulan, pantulan sang surya yang segera tanggal dalam peluk bisu. suaramu berbisik merdu mengiring sepi di lautan hampa. apa dikira, aku seperti khayal tawa di setiap cerita? hingga padanan kata menyinggahiku memutar balikan lara diantara gelapnya sapa?
Samudera Kerinduan
biarlah kita mematut-patut keracikan kalimat, yang sanggup melukiskan siapa dan dimana sangkutan angan. seorang pemuda yang tengah bangkit memapag surya, hendaknya menengok segi-segi gemilang dari percaturan martabat. semoga, dunia ini tak segan mendekapmu dari jemari-jemari penuh kekotoran bertindak. lihat senja yang sekian kalinya dari peratapan nasib, mengubah caranya dia berkata menjadikanmu tak kenal siapa lagi dia. biarlah dia seperti kesekian kalinya mematut pada ufuk timur, karena sebentar kemudian dia akan tenggelam bersamamu di samudera kerinduan.
Seorang Pelayat
Kita sebentar tidur dan bermimpi, kemudian bangun atas kesadaran melihat realita, tak seindah cerita para penghuni nirwana yang menyeruak tawa canda disana, tak sesejuk pagi buta yang nafas dingin masih mencumbuimu. tak semerdu nabi daud ketika melantunkan suara emasnya. aduh, ketika petaka sedang melayatmu kau sudah tertidur, atau bahkan sedang membisu diantara sudut kamar. tidak pulas, hanya sekedar memejamkan mata menghindari lautan tangis yang dari kini sudah membanjiri kamar hati. aku hanya seorang pelayat yang mengamati dan ingin memelukmu sejadinya, kemudian berbisik kita berada di dunia yang sama, berteduh di langit sama, adakah cerita yang bisa disampaikan olehmu? cukup pandang mataku yang sedari berbinar, menepis tangisan luka yang sedari tadi menyumpahiku. kau tak perlu setakut itu mendengar gemuruh langit murka, karena telah ku siapkan menghadap peradilan semesta, jika itu membuatmu nampak baik-baik saja, maka aku telah mencabut diriku demi ketenanganmu, dan setelahnya kau akan abadi pada suara nyaring udara.
Nafas semesta adalah Dzikir
Dia bagaikan kamus yang harus kucari beberapa kosa kata yang tidak kumengerti, dan sepertinya akan kurangkai beberapa kata yang perlu dia fahami tentang hidup. bahwa, seberapa berat perjalananmu hingga melelahkanmu, maka cukuplah bertegur sapa pada hatimu, karena hati adalah koneksi antara engkau(makhluk) dengan Allah(khalik). Dia adalah kesadaran diri yang perlu engkau tambahkan porsi dengan selalu dzikr. setiap hela nafas adalah interaksi antara kehidupan pada dirimu dan semesta, kemudian hadirkanlah Asma Allah yang menciptakan semesta pada setiap nafas, maka itu kata sang guru yang bernama dzikir nafas.















