menemukan-Mu dalam bait-bait diriku

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Dunia Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2015

Rendahkan Hati Kita


jika kita terlalu tidak tahu bukan berarti itu adalah kesalahan. tidak ada orang tahu, melainkan ia hanya lebih dahulu tahu. rendahkan hatimu bukan dengan gaya bicara lembutmu, melainkan mengobati hatimu dari penyakit. aku katakan merendahkan hati itu ibarat puasa yang menahan segala keinginan yang datang darihawa nafsu, dari ke"aku"an seolah diri yang berasal dari tanah terpijak ini adalah paling baik dan berprestasi seolah Allah tidak hadir dalam setiap gerakmu. Ibnu Athailah dalam hikamnyaberkata :idfiw wujuudaka fii ardlil khumuuli famaa nabata mimmaa lam yud fal laa yatimmanataa ijuhhu.
"Tanamkanlah dirimu di dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya".
Share:

Sabtu, 23 November 2013

ke AKUAN sebagai HIJAB DIRI

Abu Zhulmi adalah seorang guru sufi yang tergabung dalam persaudaraan para sufi di kota Bistam. Ia memiliki banyak pengikut. Ia beserta teman-temannya dengan khusyuk selalu mengikuti ceramah yang disampaikan Abu Yazid Al-Bistami. 
            Tercekam oleh paparan Abu Yazid tentang ma’rifat, suatu hari Abu Zhulmi menemui Abu Yazid dan berkata,”Wahai guru, hari ini genap 30 tahun aku berpuasa. Setiap malam aku tidak pernah tidur karena shalat tak terputus. Tetapi, guru, aku belum menemukan diriku untuk bisa mencapai ma’rifat yang engkau sampaikan itu. Padahal, untuk mencapai ma’rifat, aku telah bertahun-tahun setia mengikuti ceramah-ceramah yang engkau sampaikan.”
            Abu Yazid menyahut,”Sekalipun tujuh puluh tahun lagi engkau berpuasa dan shalat sepanjang malam, engkau tidak akan pernah memahami sedikit pun pelajaran yang aku sampaikan.”
            “Mengapa demikian, guru?” tanya Abu Zhulmi.
            “Karena engkau terhijab oleh dirimu sendiri,” sahut Abu Yazid.
            “Adakah cara yang bisa kuperoleh untuk membuka hijab itu?” tanya Abu Zhulmi.
            “Engkau tidak akan pernah mendapatkannya,” jawab Abu Yazid.
            “Aku akan bisa mendapatkannya,” sahut Abu Zhulmi bersemangat,”Asalkan engkau memberitahu aku bagaimana aku mencarinya.”
           “Baiklah,” sahut Abu Yazid,”Sekarang juga pergi dan cukurlah rambut dan janggutmu. Lepas pakaian yang kau kenakan. Ganti dengan pakaian dari bahan karung sebatas pinggangmu. Gantung sebuah tas berisi biji kenari di lehermu lalu pergilah ke pasar. Kumpulkan anak-anak dan katakan kepada mereka “aku akan memberi biji kenari kepada siapa saja yang menampar kepalaku. Berkelilinglah engkau ke segenap penjuru kota untuk melakukan hal yang sama, terutama di tempat-tempat orang yang mengenalmu. Itulah caramu menemukan pembuka hijab dirimu.”
          “Allahu Akbar, semua kebesaran milik Allah! Laailaha ilallah,” seru Abu Zhulmi setelah mendengar penjelasan Abu Yazid.
             “Ketahuilah, andaikata orang kafir mengucapkan kata-kata yang baru saja engkau ucapkan, dia pasti menjadi seorang yang beriman,” sahut Abu Yazid menyahuti,”Tetapi dengan mengucapkan kata-kata itu, engkau justru telah menjadi orang musyrik.”
             “Mengapa begitu, guru?” sergah Abu Zhulmi memprotes.
             “Karena engkau telah menganggap dirimu sendiri terlalu mulia untuk sanggup melaksanakan kata-kataku,” kata Abu Yazid menjelaskan,”Karena itu, engkau menjadi musyrik. Engkau ucapkan kata-katamu itu untuk mengungkapkan kepentinganmu sendiri, dan sekali-kali bukan untuk dan demi mengagungkan Allah.”
           “Terus terang, aku tidak sanggup menjalankan hal itu,” kata Abu Zhulmi mengajukan usulan,”Berikan aku syarat yang lain saja.”
            “Syarat termudah adalah apa yang telah aku sebutkan tadi,” sahut Abu Yazid.
             “Aku tidak dapat melaksanakannya,” sahut Abu Zhulmi dengan nada tinggi.
              “Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan pernah mendapatkan cara membuka hijab, karena engkau terhijab oleh ke-aku-anmu sendiri,” ujar Abu Yazid Al-Bistami pergi meninggalkan Abu Zhulmi yang bersungut-sungut hatinya diliputi kedongkolan.
                                                                                         * * *
              Setelah meninggalkan jabatan guru besar di Universitas Nizhamiyyah Baghdad, Al-Ghazaly berguru kepada seorang sufi yang menutupi jati diri sebagai seorang pen jahit pakaian. Pelajaran pertama yang diberikan sufi penjahit kepada Al-Ghazaly adalah perintah ‘membersihkan pasar’ sampai sebersih-bersihnya.
               Sebagai seorang guru besar yang termasyhur dan dihormati di kampus maupun di dunia Islam yang mendapat gelar kebesaran Hujatul Islam, Al-Ghazaly sangat tertekan menjalankan pelajaran pertama yang tidak masuk akal itu. Tapi kepatuhan membuatnya dengan terpaksa menyapu pasar sewaktu kegiatan pasar telah selesai. Itupun Al-Ghazaly menutupi diri dari kepala sampai kaki dengan mengenakan jubah berkerudung dan wajah ditutupi cadar.
               Setelah merasa bahwa pasar yang disapunya telah bersih, Al-Ghazaly menghadap sufi penjahit dan melaporkan hasil kerjanya. Tapi dengan isyarat sufi penjahit berkata,”Belum bersih. Harus diulangi lagi sampai bersih.”
               Esok hari, Al-Ghazaly mengulangi lagi pekerjaannya sampai sore hari dengan tidak meninggalkan sekeping pun bekas sampah di pasar. Namun saat menghadap sufi penjahit, lagi-lagi dijawab bahwa pasar belum lagi bersih. Lalu dengan bahasa isyarat, sufi penjahit memberitahu bahwa yang dimaksud ‘pasar’ dalam perintahnya itu adalah ‘pasar’ di dalam diri.
               Sadar bahwa yang dimaksud sufi penjahit adalah sebuah usaha ‘pembersihan diri’, Al-Ghazaly esok hari kembali ke pasar dengan pakaian biasa tanpa penutup kepala dan tanpa cadar. Tak perduli dilihat orang-orang yang terheran-heran, Al-Ghazaly menyapu pasar sambil membaca khasidah pepujian kepada Nabi Muhammad Saw. Lalu orang-orang berkerumun, membicarakan sang guru besar yang secara tiba-tiba telah menjadi orang gila. Setiap orang yang melihat Al-Ghazaly menyapu pasar dan mengumpulkan sampah ke dalam keranjang, menyatakan iba hati dan bahkan ada yang menangis dengan nasib malang Hujatul Islam tersebut.
                  Sore hari setelah pasar sepi, Al-Ghazaly menghadap sufi penjahit dan melaporkan apa yang sudah dilakukannya sepanjang siang itu. Sufi penjahit menyambut gembira dan menyatakan bahwa Al-Ghazaly telah lulus pelajaran itu. Al-Ghazaly kemudian meneruskan pelajaran lanjutan dengan pergi ke Damaskus untuk iktikaf di menara masjid selama empatpuluh hari yang membawanya kepada ma’rifat dan memasukkannya ke dalam jajaran wali-wali Allah. Demikianlah, pelajaran ‘membersihkan diri’ berhasil dilewati Al-Ghazaly dengan gemilang yang membawanya kepada ma’rifat, tetapi sebaliknya tidak berhasil dilewati oleh Abu Zhulmi yang mengaku murid Abu Yazid Al-Bistami.
                                                                                 * * *
               Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi yang bersekolah selama 35 tahun dan kemudian mengajar di kampus selama delapan tahun, memperoleh gelar guru besar. Dalam pengukuhan guru besar, semua orang terkagum-kagum dengan tokoh yang memiliki nama lengkap Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum itu. Pak Professor Ali tidak bisa menghitung berapa jumlah biaya yang sudah dikeluarkan orang tua maupun atas hasil usahanya sendiri selama menuntut ilmu di sekolah. Beliau juga tidak bisa menghitung betapa berat dan lamanya waktu yang telah digunakannya untuk memperoleh seperangkat gelar yang menempatkannya di puncak piramida kaum terdidik itu. Yang pasti, pak professor telah menjadi manusia berkedudukan tinggi jauh di atas dosen-dosen biasa apalagi dengan kedudukan karyawan-karyawan kampus seperti petugas absensi, satpam, tukang parkir, petugas kebersihan yang tidak punya gelar.
             Ketika memasuki usia pensiun, Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum menghadap Guru Sufi minta agar diajari cara singkat untuk mencapai ma’rifat. Sebab sebagai ilmuwan dengan sederet gelar, Pak Professor Ali merasa akan mudah menjalani laku tasawuf yang dianggapnya sangat sederhana. Namun saat Guru Sufi memberitahu bahwa syarat utama yang wajib dipenuhi oleh orang seorang untuk memulai laku tasawuf adalah melepaskan ‘ke-aku-an’ dari diri sendiri sampai orang seorang menjadi ‘manusia’ berkedudukan ‘bayi’ yang tidak mengenal perbedaan ke-aku-an manusia satu dengan manusia yang lain dalam kedudukan kemasyarakatan, Pak Professor Ali mengerutkan kening dan kemudian bertanya,”Apakah Pak Kyai nanti akan meminta saya mengaji bareng-bareng dengan orang-orang awam dari kampung?”
             “Bukan hanya itu, professor,” sahut Guru Sufi menjelaskan,”Bapak professor  harus menjalankan suluk bersama-sama dengan satpam, tukang parkir, petugas kebersihan dari kampus bapak yang menjalani laku suluk di sini.”
           “Apa?” sahut Professor Ali terkejut,”Bagaimana mungkin itu bisa saya jalankan?”
            Guru Sufi mengangkat bahu  sambil menggumam,”Itu memang prasyarat awal kalau mau memasuki dunia sufi. Bagi orang yang ke-aku-an dirinya sudah sangat berkuasa karena diselubungi gelar-gelar kebesaran duniawi, silahkan mempelajari ilmu pengetahuan yang lain selain tasawuf.”
           Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum dengan bersungut-sungut meninggalkan pesantren sufi. Ia tahu pasti, bahwa prasyarat yang diajukan Guru Sufi tidaklah mungkin bisa dipenuhinya. Bagaimana mungkin, kemuliaan dan kehormatan diri yang telah diperolehnya dengan susah-payah selama berpuluh-puluh tahun itu akan dibuang begitu saja untuk sekedar mengikuti ilmu pengetahuan aneh yang mansyaratkan kefakiran sebagai landasan utamanya. Jika aku menjalani laku seperti petunjuk  Abu Yazid Al-Bistami atau Al-Ghazaly dengan melakukan tindakan konyol, kata Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum dalam hati, apa kata dunia nanti?

Share:

Hijrah Dari Ke-AKU-an

Pengajian 10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya
Orang beriman adalah orang yang hijrah dari dirinya, belajar kepada seorang guru yang mendidik dan mengajarinya mulai dari kecil hingga mati. Sang qari’ adalah orang yangmenghafal Al-Qur’an, dan pada pertengahannya ia mengenal pengetahuan tentang tradisi atau Sunnah Rasulullah Saw, maka saat itulah ia pasti dapat pertolongan. Ia mengamalkan ilmunya dan kokoh dengan amaliahnya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Setiap ia mengamalkan ilmunya, Allah Azza wa-Jalla mewariskan pengetahuan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah Azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.

Hatinya teguh pada pijakannya, keikhlasannya mendekatkan langkahnya menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila anda mengamalkan ilmu itu, sementara anda tidak melihat hatimu mendekat kepada Allah Azza wa-Jalla, anda pun tidak merasakan indahnya ibadah, kebahagiaan dibalik ibadah, ketahuilah bahwa anda sebenarnya belum beramal ibadah. Anda terhalang karena adanya celah dibalik amal anda. Apakah celah itu? Adalah riya’, kemunafikan dan takjub pada diri sendiri.

Wahai orang yang beramal, ikhlaslah. Jika tidak, anda jangan bersusah payah. Hendaknya anda melakukan muroqobah pada Allah Azza wa-Jalla baik dalam sunyi maupun ramai. Muroqobah dalam keramaian saja itu bagi orang munafik. Namun bagi orang yang ikhlas, muroqobah baik dalam sunyi maupun ramai sama saja.

Hati-hati, jika anda melihat orang yang bersolek, lelaki maupun wanita, maka pejamkan matamu, pejamkan mata nafsumu, watak dirimu, ingatlah pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu, dan bacalah: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan...” (QS Yunus: 61)

Waspadalah pada Allah azza wa-Jalla, dan pejamkan matamu untuk memandang hal yang diharamnkan, ingatlah pada Dzat Yang transparan pandanganNya dan pengetahuanNya. Bila anda tidak mewaspadai pandanganNya Azza wa-Jalla dan tidak kontra padaNya, maka sempurnalah ubudiyahmu padaNya, dan kelak anda tergolong hamba yang benar, masuk dalam kelompok yang difirmankanNya:
”Sesungguhnya hamba-hambaKu, tak ada bagimu (Iblis) kemampuan menguasai mereka.” (QS Al-Hijr: 42)

Bila syukurmu benar hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, maka Dia mengilhami hati para makhluk dan lisannya untuk terimakasih padamu, cinta padamu. Maka disinilah syetan dan pasukannya tidak punya jalan masuk padamu. Hendaknya  anda meninggalkan doa sebagai prinsip, kalau toh sibuk berdoa itu hanyalah toleransi saja untukmu. Doa itu bagi orang yang sedang tenggelam dan yang terpenjara, tertahan, sampai ia dapat jalan keluar dan masuk ke hadapan raja.

Jadilah dirimu orang yang berakal sehat, apa yang baik bagimu dan apa yang tidak baik, ketika anda meninggalkan doa. Tak satu pun kecuali butuh niat yang benar, akal yang sehat dan  mengikuti jejak yang mengerti.

Kalian tidak menggunakan akal sehat apa yang ada disisi Allah Azza wa-Jalla dan apa yang ada di sisi hambaNya yang shaleh. Itulah yang menyebabkan kalian su’udzon (buruk sangka) pada mereka. Jangan sampai anda khawatir terhadap pangkal agamamu dan kondisimu  bersama  mereka. Jangan sampai kalian menentang aktivitas mereka sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, jangan kontra dengan mereka karena mereka ada di hadapanNya Azza wa-Jalla, lahir dan batin.

Di hatinya tidak pernah tenang dari rasa takut hingga ketenangan dan jaminan keselamatan ada padanya.

Kemarilah wahai hamba Allah Azza wa-Jalla di muka bumi, kemarilah wahai kaum zuhud, belajarlah, anda akan mengerti pengetahuan yang baik dariNya. Masuklah dalam kitabku sampai aku memberi pelajaran padamu yang tidak pernah kalian dapatkan.

Hati kita punya kitab, dan rahasia batin juga ada kitabnya. Nafsu juga ada kitabnya, anggota badan juga ada kitabnya. Semua ada derajat-derajat, maqom-maqom, pijakan-pijakan yang beragam.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Share:

Munajat Sufi

Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

“Ketika aku di-Isro’kan ke langit, aku melihat rahim sedang tergantung di Arasy, sang rahim mengadukan pada sesama rahim kepada Tuhannya, bahwa ia telah terputus. Lalu aku bertanya, “Berapakah jarak pisah antara dirimu dengan dirinya? Rahim menjawab, “Kami bertemu dalam empat puluh jarak.”

Dalam hadits mulia ini ada disiplin mengenai kasih sayang bagi hamba, yang bisa mengendalikan liarnya nafsunya, dan ketika bertemu, ia benar-benar menjadi golongan yang saling berserasi.

Dari sebagian kaum arifin yang sampai padaku, ada munajat-munajatnya:

“Ilahi, dengan rahim (persaudaraan) kami saling bersambung, dan dengan hati kami bersibuk denganMu.”

Anak-anak sekalian! Ketahuilah bahwa para pecinta dalam menempuh jalan ubudiyah dan waktu-waktu munajat terbagai dalam berbagai level. Ada yang munajat dengan bahasa pengakuan bersalah; ada pula yang bermunajat dengan ungkapan bingung dan terdesak; ada pula yang munajat dengan bahasa kebanggan. Seandainya kalangan yang lalai mengetahui, mereka sejenak nafas pun tidak akan mengabaikan.

Nabi Saw, dalam munajatnya bersabda: "Ilahi, Bila matahati penghuni dunia sejuk dengan dunianya, maka sejukkanlah matahatiku bersamaMu.  Sejukkanlah mata hatiku dengan nikmatnya mesra bersamaMu dan rindu bertemu denganMu.”

Begitu juga pecinta selalu bermunajat: “Wahai sebaik-baik kemesraan dan yang memberi kebahagiaan. Wahai Yang sebaik-baik pendamping dan sahabat bicara. Bahagialah orang yang merasa cukup dariMu bersamaMu. Oh Tuhan, aku datang kepadaMu, aku datang kepadaMu wahai Kekasih hati. Aku datang kepadaMu wahai pelipur hati. Labbaik. .Labbaik.. Wahai harapan hati. Aku datang oh Tuhanku, mendekatMu bersamaMu hanya bersandar padaMu, hendaknya jangan Engkau palingkan diriku  bersamaMu, dariMu, dan jangan Engkau hijab diriku bersamaMu dariMu.”

Ilahi, bila Engkau memanggilku ke neraka, pasti aku penuhi panggilanMu, bagaimana tidak, sedangkan Engkau sendiri telah memanggilku menuju DiriMu?

Ilahi, bila Engkau dekatkan aku dariMu, lalu siapa lagi yang bisa menjauhkan aku? Dan bila Engkau beri kemuliaan padaKu bersamaMu, maka siapa lagi yang bisa memperendahkan diriku? Jika Engkau mengangkat derajatku kepadaMu, maka siapa lagi yang bisa merendahkanku?

Ilahi, siapakah yang aku takuti, sedangkan Engkau adalah Tuanku? Kepada siapa lagi aku berharap sedangkan Engkau adalah harapan? Kepada siapa aku bersukacita sedangkan Engkau selalu di hadapanKu? Maka bersamaMu, padaMu, hendaknyalah Engkau limpahkan kesempurnaan anugerahMu wahai Dzat Yang Sendah-indahnya Tuan, dan Seindah-indahnya Penolong.

Ilahi, rahasiaku terbuka di hadapanMu, sedangkan diriku hanya bisa mengadu kepadaMu, padahal kemahamurahanMu sudah dikenal, dan kemaha-muliaanMu menjadi sifat.

Ilahi, Engkaulah pucak kegembiraan orang-orang yang mesra kepadaMu dari para kekasihMu, dan tempat mengadunya para hampa yang Engkau pilih, dan Tempat majlis bagi para pengadu dari kalangan wali-waliMu.

Ilahi, betapa indahnya ma’rifat dalam qalbu para ‘arifin. Betapa manisnya mengingatMu pada bibir-bibir orang-orang yang berdzikir, dan betapa eloknya mencintaiMu dalam rahasia jiwa para pecinta.

Ilahi, Engkau tak pernah menggagalkan cita-cita luhur para penghasratMu, dan bagiMu tidak tersembunyi kondisi ruhani para penempuhMu, dan harapan orang-orang yang kembali kepadaMu tak pernah pupus di hadapanMu.

Ilahi, Engkaulah kebahagiaanku bila aku memandang dariMu kepadaMu. Dan Engkaulah cukupKu bila diriku berupaya meraih bersamaMu, dariMu. Sedangkan adalah kecintaanku bila aku turun dariMu bersamaMu.

Duh, Tuhan,  kasihanilah upayaku hanya menuju kepadaMu, kesendirianku bersamaMu, ketaksukaanku dari selain DiriMu. Duhai Sang Pecinta dan Tambatan kebahagiaan, wahai sebaik-baik pendamping dan tempat bicara. Jadilah buktiku darimu menujuMu.

Ilahi, jadikanlah anugerah paling agung dalam hatiku, adalah rasa malu padaMu. Jadikanlah ungkapan termanis pada ucapanku adalah memujaMu. Jadikanlah saat-saat yang paling kucintai, adalah saat-saat bertemu denganMu.

Ilahi, betapa mengerikan hati yang tidak dzikir kepadaMu. Betapa hancurnya hati yang tidak ada rasa takut kepadaMu, dan betapa sedikit kebahagiaan, yang tiada mencintaiMu.

Ilahi, tak sabar lagi jika di dunia aku tidak berdzikir kepadaMu, bagaimana aku bias sabar di akhirat nanti untuk jauh memandangMu?

Ilahi, aku mengadu betapa sendirinya diriku di negeriMu, dan betapa mengerikannya berada diantara hamba-hambaMu.

Ilahi, tak ada hasrat kehendak melainkan DiriMu, dan tak ada cita-cita utama selain Engkau, dan tak ada hajat selain DiriMu.

Ilahi, Inilah indahnya munajat, lalu bagaimana indahnya bertemu kelak?

Ilahi, inilah terimakasihku, dan terimakasihnya syukurku.

Ilahi, inilah kebahagiaanku, dan bahagiannya bahagiaku.

Ilahi, inilah rasa sayangku, dan kecintaan sayangnya sayangku.

Ilahi, bagaimana hatiku sibuk untuk mencintai selain DiriMu? Sedangkan aku sudah tidak mengenal selain mengenalMu.

Ilahi, pada siapa lagi yang layak dipuji, sedangkan Engkau adalah Tuanku? Pada siapa aku berharap, sedangkan Engkau adalah harapan daeri segala harapan. Duhai sebaik-baik yang dima’rifati dan didzikiri. Engkau terlah memuliakan diriku dengan wilayah kema’rifatanMu, maka, setelah itu janganlah Engkau hinakan aku wahai Tuanku, dengan selainMu.

Ilahi, aku heran pada orang yang mengenalMu, bagaimana ia masih butuh selain Engkau?

Ilahi, aku heran pada orang yang gembira bersamaMu, bagaimana ia masih gentar pada selain DiriMu?

Ilahi, aku heran kepada  orang yang menghendakiMu, bagaimana masih menghendaki selain DiriMu?

Ilahi, inilah kegembiraanku bersamaMu di negeri fana’, bagaimana kelak kegembiraanku di negeri Baqa’?

Ilahi, inilah kebahagiaanku bersamaMu dalam jubah khidmah, bagaimana kebahagiaanku kelak bersamaMu dalam selimut nikmat?

Ilahi, inilah kelezatan cinta, bagaimana lezatnya memandangMu?

Ilahi, inilah lezatnya kemesraan, bagaimana kelak lezatnya bertemu?

Ilahi, siapa yang tak bersukacita bersamaMu, lalu darimana lagi ada kegembiraan lain?

Ilahi, Engkau minumi aku dengan gelas cinta hingga Engkau mabukkan diriku. Cinta telah membunuhku dan rindu telah membakarku.

Ilahi, Engkau perlihatkan padaku cintaMu, perlihatkanlah wushulku…

Ilahi, betapa panjang husnudzonku bersamaMu, hendaknya jangan Engkau kembalikan aku dalam kehancuran, hingga dugaanku padaMu tidak hancur. Yang yang Dikenal bersama Yang Maha Dikenal.

Ilahi, aku tidak sabar lagi untuk bertemu, dan padaMu tak ada rekayasa, pastilah segala  dariMu, tak ada lagi tempat berlalri selain Engkau, dan tak ada pula kebahagiaan selain Engkau.

Ilahi, Engkau hidupkan aku dengan ma’rifat padaMu, maka janganlah Engkau matikan aku dengan ingkar padaMu.

Ilahi, Engkau perlihatkan sambungMu kepadaku, janganlah Engkau tampakkan sedikit pun pisahMu padaku.

Ilahi, bila Engkau tak bertindak apa yang kami kehendaki, maka berilah kami kesabaran atas apa yang Engkau kehendaki.

Ilahi, habiskan dzikirku demi mengingat keagunganMu. Ungkapkan lisanku dengan sifat anugerahMu, dan kuatkan diriku untuk mensyukuri nikmatMu.

Ilahi, kasihanilah daku, karena begitu lemahnya ketika menghadapi kehidupan yang berat, begitu bodoh dengan usaha, begitu bingung dalam mencari.

Ilahi,Engkau jadikan sebab apa yang Engkau berikan, adalah karena harapan padaMu, dan usaha yang memadukan antar wali-waliMu adalah kelembutanMu pada qalbu-qalbu mereka.

Ilahi, maka berikanlah harapan itu seperti Engkau memberi harapan padaku. Padukanlah diriku dengan para waliMu sebagaimana Engkau berikan kasih saying antar qalbu.

Bagaimana seseorang masih butuh, sedangkan Engkau adalah bagiannya? Bagaimana seseorang masih gentar sedangkan Engkau adalah kebahagiaannya? Atau bagaimana menjadi hina sedangkan Engkau adalah Kekasihnya? Atau bagaimana seseorang susah, sedangkan Engkau adalah  miliknya

Ilahi, Hasratku padaMu telah membatalkan semua kegelisahanku. Dan cintaku padaMu telah menghalangi nyenyaknya tidurku. Rinduku padaMu menghalangi kelezatan-kelezatan. Dan mesraku padaMu membuatku gentar untuk berpaling selain DiriMu.

Ilahi,, Engkau pun memberi wewenang pada orang yang memusuhiMu, bagaimana Engkau akan memusuhi orang yang menjadi waliMu?

Ilahi, ma’rifatku padaMu adalah buktiku atas DiriMu, dan cintaku padaMu adalah perantara menuju kepadaMu.

Ilahi, para pecinta mengenal keparipurnaan RububiyahMu, sedang para pendosa adalah cipta dan sempurnanya kuasaMu, maka  mereka pun menyerahkan diri padaMu dan mencari selamat  padaMu.

Ilahi, jadikanlah diriku tergolong orang yang tidak mengambil kekasih selain DiriMu, dan tidak menempuh jalan selain padaMu, orang  yang berharapkan selain dariMu.

Ilahi, Jangan jadikan aku tergolong orang yang memalingkan dirinya dari WajahMu, terhijab dari ampunan dan tertutup dari pintuMu, terputus dari sebab-sebab perlindunganMu dan mengandalkan dirinya sendiri. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Malik bin Dinar ra,  berkata, “Aku melihat seorang budak perempuan sedang bergelayut di tirai Ka’bah sembari bermunajat:

[I]KepadaMu kami datang, dan Engkau datang pada kami[/I]

[I]Tak satu pun yang menghidupkan kami
Darimu kami memburu, sedang Engkau telah memiliki kami
Tak satu pun selain DiriMu datang padaku."[/I]
Share:

Blogger templates