menemukan-Mu dalam bait-bait diriku

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 25 November 2013

Sultan dan Sufi

Alkisah, seorang Sultan sedang berparade di jalan-jalan utama kota Istanbul, dengan dikelilingi para pengawal dan tentaranya. Seluruh penduduk kota datang untuk melihat sang Sultan. Semua orang memberikan hormat ketika Sultan lewat, kecuali seorang darwis yang amat sederhana.
Sang Sultan segera menghentikan paradenya dan menyuruh tentaranya untuk membawa darwis itu menghadap. Ia menuntut penjelasan mengapa darwis itu tak memberikan penghormatan kepadanya ketika ia lewat.

Darwis itu menjawab, "Biarlah semua orang ini menghormat kepadamu. Mereka semua menginginkan apa yang ada padamu; harta, kedudukan, dan kekuasaan. Alhamdulillah, segala hal ini tak berarti bagiku. Lagipula, untuk apa saya menghormat kepadamu apabila saya punya dua budak yang merupakan tuan-tuanmu?"

Semua orang di sekelilingnya ternganga. Wajah sang Sultan memerah karena marah. "Apa maksudmu?" bentaknya.

"Kedua budakku yang menjadi tuanmu adalah amarah dan ketamakan," ujar darwis itu tenang seraya menatap kembali kedua mata Sultan. Sultan itu pun tersadar akan kebenaran ucapan orang itu dan ia balik menghormat sang darwis.
Share:

Sabtu, 23 November 2013

ke AKUAN sebagai HIJAB DIRI

Abu Zhulmi adalah seorang guru sufi yang tergabung dalam persaudaraan para sufi di kota Bistam. Ia memiliki banyak pengikut. Ia beserta teman-temannya dengan khusyuk selalu mengikuti ceramah yang disampaikan Abu Yazid Al-Bistami. 
            Tercekam oleh paparan Abu Yazid tentang ma’rifat, suatu hari Abu Zhulmi menemui Abu Yazid dan berkata,”Wahai guru, hari ini genap 30 tahun aku berpuasa. Setiap malam aku tidak pernah tidur karena shalat tak terputus. Tetapi, guru, aku belum menemukan diriku untuk bisa mencapai ma’rifat yang engkau sampaikan itu. Padahal, untuk mencapai ma’rifat, aku telah bertahun-tahun setia mengikuti ceramah-ceramah yang engkau sampaikan.”
            Abu Yazid menyahut,”Sekalipun tujuh puluh tahun lagi engkau berpuasa dan shalat sepanjang malam, engkau tidak akan pernah memahami sedikit pun pelajaran yang aku sampaikan.”
            “Mengapa demikian, guru?” tanya Abu Zhulmi.
            “Karena engkau terhijab oleh dirimu sendiri,” sahut Abu Yazid.
            “Adakah cara yang bisa kuperoleh untuk membuka hijab itu?” tanya Abu Zhulmi.
            “Engkau tidak akan pernah mendapatkannya,” jawab Abu Yazid.
            “Aku akan bisa mendapatkannya,” sahut Abu Zhulmi bersemangat,”Asalkan engkau memberitahu aku bagaimana aku mencarinya.”
           “Baiklah,” sahut Abu Yazid,”Sekarang juga pergi dan cukurlah rambut dan janggutmu. Lepas pakaian yang kau kenakan. Ganti dengan pakaian dari bahan karung sebatas pinggangmu. Gantung sebuah tas berisi biji kenari di lehermu lalu pergilah ke pasar. Kumpulkan anak-anak dan katakan kepada mereka “aku akan memberi biji kenari kepada siapa saja yang menampar kepalaku. Berkelilinglah engkau ke segenap penjuru kota untuk melakukan hal yang sama, terutama di tempat-tempat orang yang mengenalmu. Itulah caramu menemukan pembuka hijab dirimu.”
          “Allahu Akbar, semua kebesaran milik Allah! Laailaha ilallah,” seru Abu Zhulmi setelah mendengar penjelasan Abu Yazid.
             “Ketahuilah, andaikata orang kafir mengucapkan kata-kata yang baru saja engkau ucapkan, dia pasti menjadi seorang yang beriman,” sahut Abu Yazid menyahuti,”Tetapi dengan mengucapkan kata-kata itu, engkau justru telah menjadi orang musyrik.”
             “Mengapa begitu, guru?” sergah Abu Zhulmi memprotes.
             “Karena engkau telah menganggap dirimu sendiri terlalu mulia untuk sanggup melaksanakan kata-kataku,” kata Abu Yazid menjelaskan,”Karena itu, engkau menjadi musyrik. Engkau ucapkan kata-katamu itu untuk mengungkapkan kepentinganmu sendiri, dan sekali-kali bukan untuk dan demi mengagungkan Allah.”
           “Terus terang, aku tidak sanggup menjalankan hal itu,” kata Abu Zhulmi mengajukan usulan,”Berikan aku syarat yang lain saja.”
            “Syarat termudah adalah apa yang telah aku sebutkan tadi,” sahut Abu Yazid.
             “Aku tidak dapat melaksanakannya,” sahut Abu Zhulmi dengan nada tinggi.
              “Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan pernah mendapatkan cara membuka hijab, karena engkau terhijab oleh ke-aku-anmu sendiri,” ujar Abu Yazid Al-Bistami pergi meninggalkan Abu Zhulmi yang bersungut-sungut hatinya diliputi kedongkolan.
                                                                                         * * *
              Setelah meninggalkan jabatan guru besar di Universitas Nizhamiyyah Baghdad, Al-Ghazaly berguru kepada seorang sufi yang menutupi jati diri sebagai seorang pen jahit pakaian. Pelajaran pertama yang diberikan sufi penjahit kepada Al-Ghazaly adalah perintah ‘membersihkan pasar’ sampai sebersih-bersihnya.
               Sebagai seorang guru besar yang termasyhur dan dihormati di kampus maupun di dunia Islam yang mendapat gelar kebesaran Hujatul Islam, Al-Ghazaly sangat tertekan menjalankan pelajaran pertama yang tidak masuk akal itu. Tapi kepatuhan membuatnya dengan terpaksa menyapu pasar sewaktu kegiatan pasar telah selesai. Itupun Al-Ghazaly menutupi diri dari kepala sampai kaki dengan mengenakan jubah berkerudung dan wajah ditutupi cadar.
               Setelah merasa bahwa pasar yang disapunya telah bersih, Al-Ghazaly menghadap sufi penjahit dan melaporkan hasil kerjanya. Tapi dengan isyarat sufi penjahit berkata,”Belum bersih. Harus diulangi lagi sampai bersih.”
               Esok hari, Al-Ghazaly mengulangi lagi pekerjaannya sampai sore hari dengan tidak meninggalkan sekeping pun bekas sampah di pasar. Namun saat menghadap sufi penjahit, lagi-lagi dijawab bahwa pasar belum lagi bersih. Lalu dengan bahasa isyarat, sufi penjahit memberitahu bahwa yang dimaksud ‘pasar’ dalam perintahnya itu adalah ‘pasar’ di dalam diri.
               Sadar bahwa yang dimaksud sufi penjahit adalah sebuah usaha ‘pembersihan diri’, Al-Ghazaly esok hari kembali ke pasar dengan pakaian biasa tanpa penutup kepala dan tanpa cadar. Tak perduli dilihat orang-orang yang terheran-heran, Al-Ghazaly menyapu pasar sambil membaca khasidah pepujian kepada Nabi Muhammad Saw. Lalu orang-orang berkerumun, membicarakan sang guru besar yang secara tiba-tiba telah menjadi orang gila. Setiap orang yang melihat Al-Ghazaly menyapu pasar dan mengumpulkan sampah ke dalam keranjang, menyatakan iba hati dan bahkan ada yang menangis dengan nasib malang Hujatul Islam tersebut.
                  Sore hari setelah pasar sepi, Al-Ghazaly menghadap sufi penjahit dan melaporkan apa yang sudah dilakukannya sepanjang siang itu. Sufi penjahit menyambut gembira dan menyatakan bahwa Al-Ghazaly telah lulus pelajaran itu. Al-Ghazaly kemudian meneruskan pelajaran lanjutan dengan pergi ke Damaskus untuk iktikaf di menara masjid selama empatpuluh hari yang membawanya kepada ma’rifat dan memasukkannya ke dalam jajaran wali-wali Allah. Demikianlah, pelajaran ‘membersihkan diri’ berhasil dilewati Al-Ghazaly dengan gemilang yang membawanya kepada ma’rifat, tetapi sebaliknya tidak berhasil dilewati oleh Abu Zhulmi yang mengaku murid Abu Yazid Al-Bistami.
                                                                                 * * *
               Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi yang bersekolah selama 35 tahun dan kemudian mengajar di kampus selama delapan tahun, memperoleh gelar guru besar. Dalam pengukuhan guru besar, semua orang terkagum-kagum dengan tokoh yang memiliki nama lengkap Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum itu. Pak Professor Ali tidak bisa menghitung berapa jumlah biaya yang sudah dikeluarkan orang tua maupun atas hasil usahanya sendiri selama menuntut ilmu di sekolah. Beliau juga tidak bisa menghitung betapa berat dan lamanya waktu yang telah digunakannya untuk memperoleh seperangkat gelar yang menempatkannya di puncak piramida kaum terdidik itu. Yang pasti, pak professor telah menjadi manusia berkedudukan tinggi jauh di atas dosen-dosen biasa apalagi dengan kedudukan karyawan-karyawan kampus seperti petugas absensi, satpam, tukang parkir, petugas kebersihan yang tidak punya gelar.
             Ketika memasuki usia pensiun, Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum menghadap Guru Sufi minta agar diajari cara singkat untuk mencapai ma’rifat. Sebab sebagai ilmuwan dengan sederet gelar, Pak Professor Ali merasa akan mudah menjalani laku tasawuf yang dianggapnya sangat sederhana. Namun saat Guru Sufi memberitahu bahwa syarat utama yang wajib dipenuhi oleh orang seorang untuk memulai laku tasawuf adalah melepaskan ‘ke-aku-an’ dari diri sendiri sampai orang seorang menjadi ‘manusia’ berkedudukan ‘bayi’ yang tidak mengenal perbedaan ke-aku-an manusia satu dengan manusia yang lain dalam kedudukan kemasyarakatan, Pak Professor Ali mengerutkan kening dan kemudian bertanya,”Apakah Pak Kyai nanti akan meminta saya mengaji bareng-bareng dengan orang-orang awam dari kampung?”
             “Bukan hanya itu, professor,” sahut Guru Sufi menjelaskan,”Bapak professor  harus menjalankan suluk bersama-sama dengan satpam, tukang parkir, petugas kebersihan dari kampus bapak yang menjalani laku suluk di sini.”
           “Apa?” sahut Professor Ali terkejut,”Bagaimana mungkin itu bisa saya jalankan?”
            Guru Sufi mengangkat bahu  sambil menggumam,”Itu memang prasyarat awal kalau mau memasuki dunia sufi. Bagi orang yang ke-aku-an dirinya sudah sangat berkuasa karena diselubungi gelar-gelar kebesaran duniawi, silahkan mempelajari ilmu pengetahuan yang lain selain tasawuf.”
           Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum dengan bersungut-sungut meninggalkan pesantren sufi. Ia tahu pasti, bahwa prasyarat yang diajukan Guru Sufi tidaklah mungkin bisa dipenuhinya. Bagaimana mungkin, kemuliaan dan kehormatan diri yang telah diperolehnya dengan susah-payah selama berpuluh-puluh tahun itu akan dibuang begitu saja untuk sekedar mengikuti ilmu pengetahuan aneh yang mansyaratkan kefakiran sebagai landasan utamanya. Jika aku menjalani laku seperti petunjuk  Abu Yazid Al-Bistami atau Al-Ghazaly dengan melakukan tindakan konyol, kata Prof Dr Ir H Ali Mutakabbir Al-‘Ujubi, M.Sc, M.Hum dalam hati, apa kata dunia nanti?

Share:

Hijrah Dari Ke-AKU-an

Pengajian 10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya
Orang beriman adalah orang yang hijrah dari dirinya, belajar kepada seorang guru yang mendidik dan mengajarinya mulai dari kecil hingga mati. Sang qari’ adalah orang yangmenghafal Al-Qur’an, dan pada pertengahannya ia mengenal pengetahuan tentang tradisi atau Sunnah Rasulullah Saw, maka saat itulah ia pasti dapat pertolongan. Ia mengamalkan ilmunya dan kokoh dengan amaliahnya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Setiap ia mengamalkan ilmunya, Allah Azza wa-Jalla mewariskan pengetahuan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah Azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.

Hatinya teguh pada pijakannya, keikhlasannya mendekatkan langkahnya menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila anda mengamalkan ilmu itu, sementara anda tidak melihat hatimu mendekat kepada Allah Azza wa-Jalla, anda pun tidak merasakan indahnya ibadah, kebahagiaan dibalik ibadah, ketahuilah bahwa anda sebenarnya belum beramal ibadah. Anda terhalang karena adanya celah dibalik amal anda. Apakah celah itu? Adalah riya’, kemunafikan dan takjub pada diri sendiri.

Wahai orang yang beramal, ikhlaslah. Jika tidak, anda jangan bersusah payah. Hendaknya anda melakukan muroqobah pada Allah Azza wa-Jalla baik dalam sunyi maupun ramai. Muroqobah dalam keramaian saja itu bagi orang munafik. Namun bagi orang yang ikhlas, muroqobah baik dalam sunyi maupun ramai sama saja.

Hati-hati, jika anda melihat orang yang bersolek, lelaki maupun wanita, maka pejamkan matamu, pejamkan mata nafsumu, watak dirimu, ingatlah pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu, dan bacalah: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan...” (QS Yunus: 61)

Waspadalah pada Allah azza wa-Jalla, dan pejamkan matamu untuk memandang hal yang diharamnkan, ingatlah pada Dzat Yang transparan pandanganNya dan pengetahuanNya. Bila anda tidak mewaspadai pandanganNya Azza wa-Jalla dan tidak kontra padaNya, maka sempurnalah ubudiyahmu padaNya, dan kelak anda tergolong hamba yang benar, masuk dalam kelompok yang difirmankanNya:
”Sesungguhnya hamba-hambaKu, tak ada bagimu (Iblis) kemampuan menguasai mereka.” (QS Al-Hijr: 42)

Bila syukurmu benar hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, maka Dia mengilhami hati para makhluk dan lisannya untuk terimakasih padamu, cinta padamu. Maka disinilah syetan dan pasukannya tidak punya jalan masuk padamu. Hendaknya  anda meninggalkan doa sebagai prinsip, kalau toh sibuk berdoa itu hanyalah toleransi saja untukmu. Doa itu bagi orang yang sedang tenggelam dan yang terpenjara, tertahan, sampai ia dapat jalan keluar dan masuk ke hadapan raja.

Jadilah dirimu orang yang berakal sehat, apa yang baik bagimu dan apa yang tidak baik, ketika anda meninggalkan doa. Tak satu pun kecuali butuh niat yang benar, akal yang sehat dan  mengikuti jejak yang mengerti.

Kalian tidak menggunakan akal sehat apa yang ada disisi Allah Azza wa-Jalla dan apa yang ada di sisi hambaNya yang shaleh. Itulah yang menyebabkan kalian su’udzon (buruk sangka) pada mereka. Jangan sampai anda khawatir terhadap pangkal agamamu dan kondisimu  bersama  mereka. Jangan sampai kalian menentang aktivitas mereka sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, jangan kontra dengan mereka karena mereka ada di hadapanNya Azza wa-Jalla, lahir dan batin.

Di hatinya tidak pernah tenang dari rasa takut hingga ketenangan dan jaminan keselamatan ada padanya.

Kemarilah wahai hamba Allah Azza wa-Jalla di muka bumi, kemarilah wahai kaum zuhud, belajarlah, anda akan mengerti pengetahuan yang baik dariNya. Masuklah dalam kitabku sampai aku memberi pelajaran padamu yang tidak pernah kalian dapatkan.

Hati kita punya kitab, dan rahasia batin juga ada kitabnya. Nafsu juga ada kitabnya, anggota badan juga ada kitabnya. Semua ada derajat-derajat, maqom-maqom, pijakan-pijakan yang beragam.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Share:

Blogger templates