meski demikian, aku adalah manusia yang selalu terjebak pada kenangan-kenangan. masih merutuk sendiri atas apa yang sudah menimpaku, bertanya dan mencari jawab kesana dan kemari. aku akan sepenuhnya sadar ini adalah kesalahan sendiri dan tidak mungkin orang mau dipersalahkan meski sejatinya terlibat kesalahan. aku harus sendiri mendefinisikan mana yang perlu dan seperlunya diberikan apresiasi. semua tak akan bisa dipukul rata atas hasrat kesamaan, ada beberapa pihak yang selalu mengesalkan dan menggembirakan. sungguh, kemanapun aku hanya akan menemukan diriku sendiri, meski sambut riang mereka silih berganti. tidak perlu kagum dan berbangga diri, semua akan terpendam di bumi ini.
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Minggu, 13 Desember 2015
Kembali
aku semakin tertawa melihat diriku sendiri setelah menertawai yang lain. Ah tidak karuannya hidupku semakin menjelma penyakit akut stadium akhir. mengapa demikian, tanyaku pada dinding kamar yang menutupi kebingunganku. sambil menunjuk beberapa sudut yang selalu menjadi tempat mengatakan kekesalanku. berhari-hari melelapkan diri di sebuah ruang menjadikanku tak tertarik dengan apa yang di luar sana. aku bukan kurang piknik atau tidak ada yang mengajak untuk pergi, melainkan proyek piknik menyelami diri sendiri pun belum selesai. kamu kurang santai? kata Idris di suatu senja yang berhujan. justru aku yang paling santai, lihat teman-temanku memiliki etika akademik, sehingga akan segera menggelar sarjana.lihat sekalian mereka yang sudah pandai mencari nafkah, yang bersemangat hidup dan memperbaiki keadaan. sedangkan, diriku selalu disini menunggu hari berlalu dan menjadikannya tak berarti. kamu kurang bersyukur? kata Ma'ruf di suatu malam yang berisik. dimana kamu bisa melihat syukurku kawan? jika bibir hanya pedang dan ayunan pedang merupakan tindakannya. kemudian aku mengajaknya keluar sambil menadahkan tubuh hina ini pada langit yang merintikkan hujan, aku memang kurang dari apapun yang bisa kau sebutkan kawan, dari apa yang sedang kau terjemahkan padaku, dari apa yang sudah kau duga-duga padaku. aku memang begini, tidak diketahui dan dikubur dalam-dalam. dan pada akhirnya, apapun itu kita dipertemukan untuk bercerita oleh yang memiliki, Alwan .













